
Indonesia mulai menjajaki pengembangan bioetanol generasi kedua (2G) berbahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Langkah ini dilakukan melalui kolaborasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama PT Pertamina sebagai bagian dari upaya mengembangkan teknologi energi berbasis sumber daya dalam negeri. Pembahasan tersebut dilakukan pada 19 Agustus 2026. (Kemenristek Dikti)
Dalam pengembangan tersebut, Kemdiktisaintek membawa hasil penjajakan teknologi dengan Praj Industries dari India, yang menawarkan teknologi sekaligus opsi pembangunan pilot plant atau fasilitas percontohan dalam skala kecil. Pemerintah dan Pertamina akan mengkaji teknologi tersebut dari sisi teknis, kebutuhan investasi, aspek ekonomi, hingga kemungkinan penerapannya di Indonesia. Pendekatan skala kecil dipilih agar karakteristik TKKS Indonesia dapat dipelajari sebelum dikembangkan lebih luas. (ANTARA News Jawa Barat)
TKKS merupakan hasil samping dari industri kelapa sawit yang selama ini belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Bahan tersebut memiliki kandungan selulosa dan hemiselulosa yang dapat diolah melalui sejumlah tahapan untuk menghasilkan bioetanol. Pemanfaatan TKKS menjadi bioetanol berpotensi memberikan nilai tambah bagi industri sawit sekaligus mendorong pemanfaatan biomassa dalam konsep ekonomi sirkular. (E-Jurnal ITS)
Pengembangan ini juga berkaitan dengan agenda ketahanan energi nasional. Kementerian ESDM sebelumnya memperkirakan implementasi bauran bioetanol E20 membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter etanol per tahun. Karena itu, pengembangan bahan baku domestik seperti TKKS dapat menjadi salah satu opsi untuk memperluas sumber bahan bakar nabati dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor. (Kementerian ESDM)
Meski potensinya besar, pengembangan bioetanol dari TKKS masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait teknologi pengolahan, ketersediaan bahan baku, pengumpulan, harga, serta distribusi TKKS dari berbagai sentra perkebunan. Pemerintah juga menekankan pentingnya kesinambungan dari tahap riset hingga hilirisasi agar teknologi yang dikembangkan benar-benar dapat diterapkan secara industri dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta pelaku usaha. (ANTARA News Jawa Barat)
Jika berhasil dikembangkan secara komersial, bioetanol berbasis TKKS dapat membuka peluang baru bagi industri kelapa sawit Indonesia. Limbah atau hasil samping perkebunan tidak hanya memiliki nilai lingkungan, tetapi juga dapat menjadi bahan baku energi bernilai ekonomi. Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri menjadi kunci untuk memastikan inovasi ini dapat berkembang dari tahap penelitian menuju teknologi yang siap digunakan secara luas. (ANTARA News Gorontalo)
0 Komentar